Orasi Ilmiah Tegaskan Pentingnya Integrasi Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner dalam Mewujudkan Indonesia Bebas Rabies 2030
MORGANTARA NEWS.COM | KUPANG – Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan akademiknya. Prof. Dr. drh. Ewaldus Wera, M.Sc resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-7 Politeknik Pertanian Negeri Kupang dalam bidang Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner, melalui Sidang Senat Terbuka yang berlangsung khidmat di Gedung Student Center Politani Kupang.
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan ilmu kesehatan hewan di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Politani Kupang sebagai institusi pendidikan vokasi yang terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kontribusi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ewaldus menyampaikan orasi ilmiah berjudul:
"Kolaborasi Sains dan Kebijakan: Transformasi Pengendalian Rabies Melalui Integrasi Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner dalam Kerangka One Health Menuju Indonesia Bebas Rabies."
Judul tersebut merefleksikan perjalanan lebih dari dua dekade penelitian beliau dalam bidang epidemiologi veteriner dan ekonomi kesehatan hewan, khususnya pengendalian rabies di Indonesia.
One Health Menjadi Fondasi Pengendalian Rabies
Dalam orasinya, Prof. Ewaldus menegaskan bahwa rabies bukan sekadar persoalan kesehatan hewan, tetapi merupakan tantangan lintas sektor yang membutuhkan kolaborasi antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, lingkungan, serta pembuat kebijakan.
Menurutnya, pendekatan One Health harus menjadi fondasi utama dalam pengendalian penyakit zoonosis.
"Pengendalian rabies harus dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kuat, kebijakan berbasis bukti, serta kolaborasi lintas disiplin," demikian pesan utama yang disampaikan dalam orasi ilmiahnya.
Penelitian Flores Mengubah Paradigma Pengendalian Rabies
Sebagian besar orasi ilmiah mengangkat hasil penelitian yang telah dilakukan Prof. Ewaldus di Pulau Flores.
Melalui berbagai penelitian selama bertahun-tahun, ia menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian rabies tidak hanya bergantung pada vaksinasi massal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku masyarakat.
Penelitiannya menemukan bahwa banyak pemilik anjing enggan mengikuti program pengendalian rabies karena anjing memiliki nilai ekonomi maupun budaya dalam kehidupan masyarakat Flores. Selain itu, rendahnya partisipasi masyarakat juga dipengaruhi keterbatasan akses, kurangnya informasi, hingga kesulitan menangkap anjing saat vaksinasi berlangsung.
Investasi Pencegahan Lebih Murah daripada Mengobati
Dari perspektif ekonomi veteriner, Prof. Ewaldus menjelaskan bahwa investasi pada vaksinasi anjing jauh lebih efisien dibandingkan biaya penanganan korban gigitan rabies.
Melalui simulasi ekonomi yang dikembangkan bersama tim penelitinya, peningkatan cakupan vaksinasi hingga minimal 70 persen menggunakan vaksin berdurasi perlindungan lebih panjang mampu menghemat biaya publik hingga hampir delapan kali lipat dalam jangka panjang sekaligus menyelamatkan ratusan tahun kehidupan manusia (life years saved).
Menuju Epidemiologi Veteriner Presisi
Prof. Ewaldus juga memperkenalkan konsep Precision Veterinary Epidemiology, yakni integrasi epidemiologi, ekologi, analisis spasial, teknologi digital, dan ekonomi veteriner dalam pengendalian penyakit.
Melalui penelitian internasional menggunakan GPS tracking terhadap populasi anjing, tim peneliti mampu memetakan pola pergerakan anjing sehingga strategi vaksinasi dan surveilans dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan efisien.
Indonesia Bebas Rabies 2030 Bukan Sekadar Cita-cita
Menutup orasinya, Prof. Ewaldus menyampaikan optimisme bahwa target Indonesia Bebas Rabies 2030 dapat diwujudkan apabila seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health.
Ia menegaskan bahwa pembangunan sistem kesehatan hewan modern harus bertumpu pada tiga pilar utama:
- ilmu pengetahuan yang kuat;
- pengelolaan risiko berbasis bukti;
- penggunaan sumber daya secara efisien.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak hanya mampu mengendalikan rabies, tetapi juga membangun sistem kesehatan hewan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Rekam Jejak Akademik Mendunia
Prof. Dr. drh. Ewaldus Wera, M.Sc merupakan akademisi kelahiran Manggarai yang menyelesaikan pendidikan dokter hewan di IPB University, meraih gelar Master di Utrecht University, Belanda, dan doktor di Wageningen University, Belanda, dalam bidang Veterinary Epidemiology and Economics.
Karya ilmiahnya telah dipublikasikan pada berbagai jurnal internasional bereputasi seperti PLoS Neglected Tropical Diseases, Vaccine, Scientific Reports, Frontiers in Veterinary Science, hingga Preventive Veterinary Medicine. Selain aktif sebagai peneliti, beliau juga menjadi reviewer berbagai jurnal internasional dan editor pada jurnal Frontiers.
Momentum Bersejarah bagi Politani Kupang
Pengukuhan Prof. Dr. drh. Ewaldus Wera, M.Sc sebagai Guru Besar ke-7 Politeknik Pertanian Negeri Kupang menjadi pencapaian penting bagi institusi sekaligus kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Kehadirannya sebagai profesor di bidang Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner diharapkan semakin memperkuat kontribusi Politani Kupang dalam menghasilkan inovasi ilmiah, mendukung kebijakan berbasis bukti, serta memberikan solusi nyata terhadap berbagai tantangan kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, dan ketahanan pangan di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.
.png)

.png)


.png)